Sejarah Migrasi Hakka ke Indonesia

“Di tempat yang ada matahari, di tempat itu juga ada orang Tionghoa. Di tempat yang ada orang Tionghoa di situ ada orang Hakka”. Diperkirakan di Indonesia terdapat dua puluh juta lebih orang Tionghoa dan diantaranya terdapat delapan juta lebih orang Hakka. Sejak dahulu kala orang Hakka telah memberikan kontribusi yang sangat besar demi kemandirian, pembangunan ekonomi, dan kemajuan sosial di Indonesia, bahkan telah bercampur ke dalam cara hidup masyarakat Indonesia.

Sejarah kedatangan orang Hakka dari Guangdong dan Fujian, Tiongkok ke Indonesia sangat panjang. Berdasarkan buku yang berjudul “Catatan Kisah Orang Hakka Ternama” yang diterbitkan oleh Sekolah Bisnis Swasta Indonesia pada tahun 1940, pada akhir dinasti Song Selatan, tentara Mongol berhasil menyerang dan menguasai Tiongkok bagian tengah, bahkan terus ke selatan bahkan hingga ke Fujian, Jiangxi, Guangdong. Wen Tianxiang (orang Jian, Jiangxi) Kepala Mentri Kiri dinasti Song menghimpun tentara sukarela untuk menyelamatkan kaisar di daerah Ganzhou, Meizhou dll. Pada Maret 1277, Wen Tianxiang membagi tentara penyelamat kaisar untuk menyelamatkan Meizhou berhasil menghimpun 800 orang lebih tentara sukarela, Zhuo Moudeng dari daerah Meixian adalah salah satu tentara sukarela tersebut. Pada tahun 1279 tentara bernama Wen Tianxiang berhasil dikalahkan daerah Ya Shan (sekarang disebut Xinhui, Guangdong). Dinasti Song Selatan pun diruntuhkan, Zhuomou bersama sepuluh orang pemuda dari daerah tersebut mengendarai perahu kayu dan terbawa angin kuat monsun sampai ke pulau Kalimantan (Borneo) dan menetap di sana. Ini menjadi catatan tertua mengenai sejarah kedatangan orang Hakka Meizhou ke Indonesia melalui jalur laut yang tercatat dalam catatan sejarah, hingga hari ini telah menjadi 735 tahun lamanya.

“Suku Mongol telah mengalahkan dinasti Song lalu mendirikan dinasti Yuan, seluruh penjuru negeri diberlakukan kebijakan yang menekan masyarakat, ditambah lagi karena kekacauan perang dan bencana alam, mempercepat proses orang Hakka Meizhou untuk pergi keluar Tiongkok. Profesor Chinese University of Hongkong sekaligus Kepala departemen pembelajaran sejarah Tiongkok yang bernama Qiao Zongyi (nenek moyangnya berasal dari Meixian, Guangdong tapi dilahirkan di Huzhou). Dalam “Majalah Transportasi Huzhou” dituliskan “pada dinasti Yuan, Sriwijaya (sekarang disebut Palembang) sudah ada tanda peradaban orang Fujian dan Guangdong” dan ini juga merupakan catatan dari orang Hakka Meizhou yang datang ke Asia Tenggara.

“Pada tahun 1407 Kepala Angkatan Laut Zhenghe memimpin pasukan yang sangat besar yang mencapai di daerah Sambas, Borneo (sekarang disebut Kalimantan), lalu membangun pelabuhan transit di laut Malaka, juga di daerah Sambas, Kalimantan Barat, di **** di Jawa (di sekitar barat Surabaya) dan Sumatera tiga pelabuhan transit sebagai daerah utama untuk istirahat dan menambah cadangan makanan serta air bersih. Akibatnya pada saat itu Sam Poo Kong mendirikan sebuah perkumpulan islam Tionghoa San Fa untuk membangun, mengembangkan dan menyebarkan budaya Islam dan Konfusianisme sebagai karakter Zhenghe dalam menjalin hubungan dengan balatentara pada waktu ekspedisi menuju pasifik barat (Qi Xi Xia Yang). Perjalanan pertama Qi Xi Xia Yang Zenghe membawa 2700 pasukan berkuda dan masih ada ribuan orang yang menyebarkan budaya konfusianisme di tempat itu. 

Beradasarkan catatan “majalah Jiao Ling” yang terbit pada tahun 1992, pada era kaisar Yongle dinasti Ming, dalam pasukan ekspedisi ke 7 Zhenghe terdapat pasukan tentara yang terdiri dari orang Hakka Meizhou. Tetapi karena tidak mengetahui arah tujuan secara jelas akhirnya mereka tinggal di pedalaman hutan Kelantan, diantaranya ada keturunan dari Feng Kou Xiang dari Jiao Ling. Ini diperkirakan ekpedisi Zhenghe yang dijelaskan di atas telah mendirikan tiga pelabuhan transit juga telah meninggalkan petiggi-petinggi yang menjadi leluhur orang Hakka asal Meizhou. 

Dalam era kejayaan dinasti Ming, revolusi petani yang dipimpin oleh Xiao Wan orang Dabu, Lin Chaoxi orang Zhengxiang (sekarang disebut Meixian) dan Zhang Lian orang Rao Ping berkembang menjadi seratus ribu orang lalu membuat Jendral Qi Jiguang kalah, dan dampaknya tidak sedikit orang yang melarikan diri ke laut selatan. Di antara kelompok Ling Qingchao dan Lin Feng tentara laut pemberontak Kaisar Ming terdapat tidak sedikit orang Meizhou, setelah dibunuh oleh tentara Ming, banyak di antaranya yang melarikan diri hingga menetap di negara-negara di Asia tenggara, termasuk Indonesia, masyarakat Meizhou juga tidak sedikit yang turut serta dalam pelarian ini.

Majalah Dabu (terbit pada tahun 1992) menulis bahwa pada saat Ming Chongzhen berusia 13 tahun (tahun 1640), Jiang Long masyarakat dari desa Zhangzhi, Luo Hong masyarakat dari desa Dadong, Dabu, dll bergabung dengan tentara sukalera penentang Dinasti Ming yang dipimpin oleh Zheng Chenggong (Koxinga) dan mengikuti Zheng hingga ke Taiwan. Setelah pasukan mereka dikalahkan, mereka menyelamatkan diri ke Asia Tenggara. Di akhir dinasti Ming dan awal dinasti Qing banyak generasi dari orang Hakka di Fujian dan Guangdong yang menjadi pengikut Hongmen (atau Tiandihui) yang targetnya adalah untuk menentang dinasti Qing dan ingin mengembalikan dinasti Ming. Sosial dan politik Tiongkok pada masa itu sedang mengalami kekacauan, banyak orang yang lebih memilih mengarungi lautan ke pulau Borneo dan bekerja sebagai penambang emas. Maoyritas orang Hakka ini adalah mereka yang lahir di Jiaying Zhou (sekarang disebut kota Meizhou), Hui Zhou, dan Lufeng. Hingga pertengahan abad 18, jumlah populasi sudah meningkat hingga 70.000 jiwa. Saat itu mereka telah terbagi dalam 20 kelompok organisasi, semuanya disebut sebagai Kongsi.  Yang disebut dengan Kongsi ini sebenarnya adalah sebuah bentuk perkumpulan ekonomi yang bersifat rahasia di tengah-tengah masyarakat desa Fujian dan Guangdong pada akhir dinasti Ming dan awal dinasti Qing.

Pada tahun 1772, Luo Fangbo dari Shi Shan Bao, Jiaying Zhou (sekarang Meizhou), karena bergabung dengan organisasi penentang Qing dan mendukung pengembalian Ming, Tiandihui dan diketahui oleh pemerintah Qing, tidak lagi diizinkan tinggal di sana, Jiang Wubo dan sekelompok orang satu kampungnya bersama orang Hakka dari Yongding, Fujian dan daerah-daerah lainnya berlayar dengan menggunakan kapal kayu menuju Mondar, Pontianak, pulau Borneo Kalimantan menyelamatkan diri. Awalnya ia mendirikan ruangan belajar dan mengajar Bahasa Mandarin selama 2 tahun, lalu menghimpin 100 lebih orang Hakka untuk menambang emas. Pada tahun 1777 mendirikan Kong Lanfang, hingga dalam beberapa tahun menguasai lokasi penambangan emas di Mandor dan sekitarnya. Pada 1794, ia membantu Sultan Pontianak untuk meredakan kekacauan dan pengaruhnya semakin besar. Kepala suku setempat juga memiliki hubungan dengannya. Pengaruh Kongsi Lanfang tersebar ke seluruh penjuruh daerah, bahkan kongsi pencari emas yang dikuasai oleh orang Hakka Fujian dan Guangdong di sekitarnya pun diambil alih olehnya, penduduknya mencapai 100 ribu lebih jiwa. Luo Fangbo ditunjuk sebagai Kepala Kongsi. Kongsi Lanfang berjalan secara mandiri, membuka sekolah berbahasa Mandarin, meluaskan pasar, menyusun aturan-aturan, melatih tentara, menyewakan dan menarik pajak, menjaga hubungan antara  pemerintah dan rakyat, serta telah melakukan prestasi yang luarbiasa bagi kemajuan Kalimantan Barat.

Pada tahun 1886, Kongsi Lanfang mulai diokupasi oleh Kolonial Belanda. Kong Lanfang melewati periode selama 109 tahun sejak berdiri hingga runtuh, menjadi bentuk dasar sosial masyarakat Tionghoa. Dalam periode ini, orang Hakka dari desa Meizhou yang datang ke selatan dan bergabung dalam Kongsi ini sangat banyak. Sekitar tahun 1770, Sultan Luyi dari Kalimantan Barat sekali mengundang 30.000 orang Hakka untuk membuka penambangan emas di sana.

Hingga hari ini, di pesisir sepanjang sungai Kapuas di Pontianak masih terdapat kampung-kampung tradisional, salah satunya terdapat desa yang indah bernama Sungai Ayak yang ditinggali oleh 4000 lebih orang Hakka, yang bekerja sebagai petani ataupun buruh. Jika dilihat dari luar, maka akan sulit membedakan antara orang Tionghoa dan orang pribumi, tempat hidup juga hamper sama dengan penduduk setempat, tapi mereka masih menggunakan Bahasa Hakka Meizhou asli. Berdasarkan kondisi kehidupandapat dilihat bahwa leluhur mereka pada abad 18 mengikuti Lan Fangbo hingga ke tambang emas ini, lalu di daerah setempat menikah dan memiliki anak, mendirikan kampungnya sendiri, hingga hari ini terus beranak pinak hingga 4-5 generasi, hidup harmonis bersama penduduk setempat, seperti satu keluarga. Di sini orang Hakka melewati kehidupan yang bahagia, dari sebuah lagu Hakka yang dinyanyikan oleh warga setempat dapat menjelaskan mengapa para tetua Hakka menetap di sini: Sungai Ayak, tempat yang indah, pohon memenuhi gunung, jagung memenuhi lumbung, pada musim kekeringan, ikan bergerombol, memancing gerombolan ikan untuk dimakan.” 

Pada bulan Febuari era Kaisar Tongzhi dinasti Qing (tahun 1864), 

Write a comment